Film Perumahan Laddaland, merupakan adaptasi resmi dari film Thailand Ladda Land (2011). Sesuai judulnya film ini mengambil setting di sebuah perumahan, yang ternyata di dalamnya menyimpan banyak misteri dan teror bagi penghuninya.
Ceritanya bermula dari seorang Ayah yang mengajak keluarga kecilnya pindah ke sebuah rumah impian yang baru dia beli lewat KPR. Sayangnya, kebahagiaan itu gak dirasakan oleh anak perempuan mereka yang merasa lingkungan perumahan aneh dan menyeramkan.
Sampai akhirnya, beberapa kejadian aneh muncul di perumahan itu, mendatangkan ketakutan bagi penghuninya. Kedengarannya premisnya menarik. Tapi setelah menonton secara utuh, film ini akan melahirkan banyak kebingungan di pikiran penonton, sampai akhir film.
Dari setting lokasinya aja sudah kurang meyakinkan. Model komplek perumahan mewah, tapi terlalu sepi, gelap, dan terlalu janggal untuk dihuni cuma segelintir orang, malah hampir gak kelihatan penghuni lainnya. Petugas security pun cuma satu. But, secara look lingkungannya masih terawat dan rumah-rumahnya masih kelihatan bagus, jadi bukan komplek perumahan terbengkalai juga. Gak make sense banget..
Lalu ke teror-terornya, ini yang bikin bingung ? Gak ada penjelasan kenapa si setan bernama Eneng itu muncul ? Sebenarnya apa yang dia cari ? Kenapa dia bisa begitu ? Lalu karakter tetangga yang menunjukkan sikap aneh pun juga gak jelas, itu tujuan dan alasannya kenapa ?
Film ini kebanyakan plot hole -nya, jadi penonton bingung, sebenarnya yg mau disampaikan dari film ini apa ? Ceritanya kurang jelas. Menang di jumpscare, tapi logikanya membingungkan. Ending lebih fokus ke tragedi keluarga daripada menjawab misteri apa yang ada perumahan itu.
Akting Andri Mashadi dan Titi Kamal di sini juga datar, gak ada gregetnya seperti di film-filmnya yg lain. Jujur, buat saya ini seperti project film yang kurang mateng, kayak terburu-buru dieksekusi, cuma dengan modal “remake dari film Thailand yang cukup sukses”. Padahal, gak semua film horor Thailand itu bisa/cocok diadaptasi menjadi film Indonesia. Jadinya malah maksa. Udah saatnya kita lebih percaya diri dengan film-film dengan naskah/cerita asli dari negeri sendiri.
review by : Ferdiansyah F
5/10

