
Karakter utama dalam film ini bernama Ranti (Taskya Namya), istri dari Bowo (Wafda Saifan), seorang penjual ayam potong dan ungkep di pasar, bersama kedua iparnya, yaitu Siti (Givina Lukita Dewi) yang sedang hamil besar, dan Gita (Arla Aliani). Ranti memiliki anak berusia sekitar siswa Sekolah Dasar, yaitu Nina (Shaqueena Medina Lukman), lalu masih ada pula Bayu (Bukie B. Mansyur), suaminya Siti yang tidak bekerja dan gemar berjudi sabung ayam. Semua karakter ini tinggal dalam satu rumah yang sama dengan Ibu Dian (Ratna Riantiarno), orang tua dari Bowo, Bayu, dan Gita.
Konflik yang terjadi dalam rumah tangga tersebut berfokus pada Ranti yang selalu salah di mata mertuanya karena dirasa bekerja terlalu keras hingga dianggap menyepelekan anaknya. Padahal ia bekerja keras juga buat keluarganya juga, karena Bayu cuma bisa berjudi dan tidur-tiduran saja. Sedangkan Bowo juga tidak pernah membela Ranti karena lawan bicaranya adalah Ibunya sendiri, dan jgua seringkali meninggalkan rumah karena harus berlayar untuk mendapatkan uang.
Sebenarnya kalau saya tahu ini bukan film horor, saya bakal beranggapan bahwa ini adalah film drama biasa yang mengangkat cerita masalah rumah tangga antara mertua dan menantu, serta iparnya. Setidaknya sampai ada force majeur yang membuat ceritanya berubah 180 derajat. Tiba-tiba kita dikejutkan bahwa Nina kecelakaan setelah Gita sedikit terlambat menjemputnya.
Tidak diperlihatkan bagaimana kecelakaannya, singkat cerita Nina harus dioperasi supaya tidak kehilangan kakinya. Nah, keadaan menukik tajam setelah mengetahui bahwa biaya operasinya ternyata mencapai Rp 460 jutaan. Sebuah angka yang fantastis untuk keluarga menengah ke bawah ini.
Jujur, saya pribadi sangat jarang memperhatikan film-film horor buatan Indonesia. Jadi, mungkin saja premis cerita dengan belokan tajam seperti ini memang lazim dibawakan oleh film-film tersebut.
Keadaan ini membuat Ranti pusing tujuh keliling karena uang itu terlampau besar buat keluarganya. Tidak ada solusi konkrit yang bisa diberikan oleh keluarganya, bahkan solusi jual rumah pun sepertinya juga tidak masuk akal karena nilai rumahnya seharusnya tidak sebesar itu. Lebih tidak masuk akal lagi ketika sang Ibu menyarankan untuk menunggu Bowo, anak sulungnya, pulang ke rumah karena dia pasti juga tidak punya uang dan rumah sakit tidak sesabar itu untuk menunggu kepastian. Saya kasih rate 90/100 🥳
Reviewed By = Dedy Abdurahman